semangat belajar.......

kesulitan bukan kendala, tapi tantangan.....

Kamis, 12 Januari 2012

orangtua yang memiliki anak ABK

MEMAHAMI & MEMBANTU ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS  

Anak adalah anugerah Tuhan yang begitu indah. Kehadirannya begitu dinanti bukan saja oleh ayah dan ibunya, namun juga kakek-neneknya, tante-omnya, sepupunya, dan keluarga besar lainnya. Tidak ada orang tua atau siapapun yang menginginkan anaknya kekurangan satu apapun. Namun bagaimana bila sang Khalik berkehendak lain? Bagaimana bila anak kita adalah anak berkebutuhan khusus? Apa yang harus kita lakukan untuk memberikan semangat hidup untuk dirinya? Dan bagaimana meniupkan semangat kita untuk mengayomi anak titipanNya tersebut?
Dariyah berusaha menahan air matanya. Diagnosa dokter mengatakan bahwa Anlien, puteri semata wayangnya mempunyai kemampuan pendengaran yang minim. Ibu muda berusia 33 tahun itu harus menerima kenyataan bahwa anaknya seorang tuna rungu. Belum pernah terbayangkan. Dariyah masih belum menerima kenyataan hingga sekitar 3 bulan lamanya. Namun begitu dia berusaha memberikan apa yang dibutuhkan Anlien. Seiring waktu, Dariyah berusaha menata diri dan mulai menerima kekurangan dari Anlien yang masih berusia 2,5 tahun itu. Selang 5 tahun setelah kelahiran Anline,  Mia, puteri keduanya didiagnosa dokter sebagai anak autis. Adanya gangguan perkembangan yang dialami Mia itu membuat dirinya terlambat untuk berbicara. Ditambah anak berusia 4 tahun itu mempunyai kebiasaan tertentu yang lebih banyak asyik dengan dirinya sendiri dan kurang bersoalisasi. Pada masa kesedihan itu, Dariyah dan suaminya Lili  sering saling menyalahkan. Padahal mereka paham benar bahwa sampai saat ini autis belum diketahui penyebab pastinya. Kemudian secara bertahap mereka belajar tentang autis dan berusaha memenuhi kebutuhan buah hatinya itu.
Syukurlah, secara bertahap mereka mengikuti Mia terapi yang dibutuhkannya sehingga banyak kemajuan yang dialami bocah berparas cantik itu untuk hidup jauh lebih normal. Itu baru sebagian pengalaman orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus.
Masih banyak lagi orang tua yang memiliki pengalaman lebih ’dahsyat’ dari peristiwa hidup di atas. Tidak bisa dihindari bahwa kehadiran anak berkebutuhan khusus dapat memengaruhi ikatan kedua orang tuanya. Apakah ikatan antara ayah dan ibunya semakin kompak dan saling mendukung, ataukah malah runtuh, bercerai-berai serta saling menyalahkan. Semoga tidak yang terakhir.
Sebagai orang yang beriman dan memiliki akal sehat, hendaknya kita dapat memetik segala hikmah dari apa yang diberikan Sang Pencipta kepada kita semua. Diharapkan justru keberadaan anak-anak kita tersebut dapat menjadi ladang amal buat semua. Tidak ada kata pesimis untuk kita sebagai orang tua. Karena setiap anak adalah unik. Setiap anak berhak memperoleh kasih sayang dan bimbingan akhlak dan ilmu semesta lainnya sesuai kemampuan masing-masing.
Berikut ini semoga merupakan proses ideal buat orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Semoga dapat menjadi masukan yang berarti, Amin.  
*      Bersedih dan menangislah Kesedihan merupakan satu hal yang sangat manusiawi.  Karena menjadi suatu hal yang aneh bila orang tua tersenyum bahkan tertawa geli bila mendengar anaknya tidak bisa mendengar, atau tidak bisa melihat, lumpuh layu, atau memiliki kekurangan fisik atau mental lainnya. Jadi jangan takut untuk mengeluarkan air mata, itu menandakan rasa cinta kita kepada apa yang sudah Allah berikan pada kita, yakni anak kita sendiri. Percayalah..Tuhan Maha Tahu apa yang sudah digariskanNya. Ada rahasia yang Dia berikan pada setiap kehidupan manusia. Berpikirlah positif bahwa Dia begitu percaya kalau Anda dan pasangan sanggup memberikan limpahan kasih sayang yang besar kepada anak yang sudah dititipkanNya;

*       Memberi waktu bersedih Lalu..sebagai manusia yang beriman, kesedihan tidak perlu berlebihan dan berkepanjangan. Kita perlu mengaturnya sedemikian rupa yang kemudian mulai menata diri untuk memikirkan langkah terbaik selanjutnya;

*      Saling Mendukung Langkah pertama bebenah diri adalah dengan membawa serta pasangan untuk mendiskusikan hal-hal terbaik untuk membantu sang buah hati. Jangan sibuk sendiri.  Selain pasangan, libatkan pula kakak-adiknya, kakek-nenek, om-tante, dan tetangga sebelah untuk mengetahui kondisi sang buah hati;

*      Cari informasi sebanyak-banyaknya tentang yang dibutuhkan sang buah hati Hindari mitos, pernyataan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, dan hal-hal yang berbau mistik. Kumpulkan, kliping, dan jilid berbagai informasi penting tentang penyakit, atau gangguan yang dialami anak. Selain itu, cari tahu metode penyembuhan yang pasti dan terapi yang berguna untuk anak melalui buku, internet, seminar, talkshow maupun dokter spesialis;

*      Berikan alat dan terapi yang sesuai kebutuhan anak Bila anak butuh alat pendengaran, maka carilah alat yang sesuai dengan kebutuhannya. Bila sang anak butuh terapi atau metode penyembuhan secara berkala, maka lakukanlah dengan seksama. Jangan lupa konsultasikan dengan dokter, psikolog atau  ahlinya sebelum melakukan hal-hal tersebut. Bila anda berasal dari keluarga berkekurangan, cari informasi tentang lembaga atau yayasan mana saja yang dapat membantu dan memberikan fasilitas cuma-cuma untuk sang anak;  

*      Gali Bakat dan Minat Anak Bukan tidak mungkin anak yang dianggap ’kurang’ justru memiliki kelebihan khusus yang tidak dimiliki oleh anak pada umumnya. Jadi, gali terus bakat dan minatnya! Bila sang anak menyukai melukis, sediakan dia kanvas, buku, kuas, cat, dan lain yang dibutuhkannya. 

*      Jangan menutup diri Ikuti komunitas sharing para orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus sama dengan yang dialami anak kita. Komunitas ini sangat berguna untuk saling mendukung dan memberi informasi terbaru tentang kebutuhan anak. Jangan ikuti komunitas yang kumpulannya cuma bisa berkeluh kesah’ya. . Selain itu, tetap bersosialisasi dengan tetangga sebelah kanan, kiri, depan dan  belakang. Biarkan anak bebas keluar rumah dan mendapati lingkungan luar tempat tinggalnya;  

*      Ikhlas dan Optimis Ini adalah langkah per tama dan terakhir yang wajib dimiliki para orang tua. Ikhlaskan segala peristiwa hidup yang kita alami padaNya. Kelahiran, kematian, sakit, jodoh, rejeki, dan segalanya sudah Dia yang mengatur, maka ikhlaskanlah. Tak lupa, selalu optimis! Yakinlah, Anda, pasangan, dan anak anda dapat menjalaninya dengan baik-baik saja,@


Rabu, 11 Januari 2012

kiat mempercepat perkuliahan

Kiat mempercepat perkuliahan :

1. usaha lahiriah & batiniah
2. bisa membagi waktu
3. serius dalam belajar
4. kehadiran
5. tugas-tugas mandiri terstruktur
6. tugas-tugas mandiri pribadi/individu
7. tugas kelompok
8. pendekatan diri kepada Allah lebih dari segala-galanya
9. setiap perbedaan memberikan hikmah

lahirnya muhammadiah

Kelahiran Muhammadiyah

Bulan Dzulhijjah (8 Dzulhijjah 1330 H) atau November (18 November 1912M) merupakan momentum penting lahirnya Muhammadiyah. Itulah kelahiran sebuah gerakan Islam modernis terbesar di Indonesia, yang melakukan perintisan atau kepeloporan pemurnian  sekaligus pembaruan Islam di negeri berpenduduk terbesar muslim di dunia. Sebuah gerakan yang didirikan oleh seorang kyai alim, cerdas, dan berjiwa pembaharu, yakni Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis dari kota santri Kauman Yogyakarta.

Kata ”Muhammadiyah” secara bahasa berarti ”pengikut Nabi Muhammad”. Penggunaan kata ”Muhammadiyah”  dimaksudkan untuk menisbahkan (menghubungkan) dengan ajaran dan jejak perjuangan Nabi Muhammad.  Penisbahan nama tersebut menurut H. Djarnawi Hadikusuma mengandung pengertian sebagai berikut: ”Dengan nama itu dia bermaksud untuk menjelaskan bahwa pendukung organisasi itu ialah umat Muhammad, dan asasnya adalah ajaran Nabi Muhammad saw,  yaitu Islam. Dan tujuannya ialah memahami dan melaksanakan agama Islam sebagai yang memang ajaran yang serta dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw, agar supaya dapat menjalani kehidupan dunia sepanjang kemauan agama Islam.  Dengan demikian ajaran Islam yang suci dan benar itu dapat memberi nafas bagi kemajuan umat Islam dan bangsa Indonesia pada umumnya.”

Kelahiran dan keberadaan Muhammadiyah pada awal berdirinya tidak lepas  dan merupakan menifestasi dari gagasan pemikiran dan amal perjuangan Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammad Darwis) yang menjadi pendirinya. Setelah menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci dan bermukim yang kedua kalinya pada tahun 1903, Kyai Dahlan mulai menyemaikan benih pembaruan di Tanah Air. Gagasan pembaruan itu diperoleh Kyai Dahlan setelah berguru kepada ulama-ulama Indonesia yang bermukim di Mekkah seperti Syeikh Ahmad Khatib dari Minangkabau, Kyai Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah  dari Surabaya, dan Kyai Fakih dari Maskumambang; juga setelah membaca pemikiran-pemikiran para pembaru Islam seperti Ibn Taimiyah, Muhammad bin Abdil Wahhab, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Dengan  modal kecerdasan dirinya serta interaksi selama bermukim di Ssudi Arabia dan bacaan atas karya-karya para pembaru pemikiran Islam itu telah menanamkan benih ide-ide pembaruan dalam diri Kyai Dahlan. Jadi sekembalinya dari Arab Saudi, Kyai Dahlan justru membawa ide dan gerakan pembaruan, bukan malah menjadi konservatif.

Embrio kelahiran Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi untuk mengaktualisasikan gagasan-gagasannya merupakan hasil interaksi Kyai Dahlan dengan kawan-kawan dari Boedi Oetomo yang tertarik dengan masalah agama yang diajarkan Kyai Dahlan, yakni R. Budihardjo dan R. Sosrosugondo. Gagasan itu juga merupakan saran dari salah seorang siswa Kyai Dahlan di Kweekscholl Jetis di mana Kyai mengajar agama pada sekolah tersebut secara ekstrakulikuler, yang sering datang ke rumah Kyai dan menyarankan agar kegiatan pendidikan yang dirintis Kyai Dahlan tidak diurus oleh Kyai sendiri tetapi oleh suatu organisasi agar terdapat kesinambungan setelah Kyai wafat.

Dalam catatan Adaby Darban, ahli sejarah dari UGM kelahiran Kauman, nama ”Muhammadiyah” pada mulanya diusulkan oleh kerabat dan sekaligus sahabat Kyai Ahmad Dahlan yang bernama Muhammad Sangidu, seorang Ketib Anom Kraton Yogyakarta dan tokoh pembaruan yang kemudian menjadi penghulu Kraton Yogyakarta, yang kemudian diputuskan Kyai Dahlan setelah melalui  shalat istikharah (Darban, 2000: 34). Artinya, pilihan untuk mendirikan Muhammadiyah memiliki dimensi spiritualitas yang tinggi sebagaimana tradisi kyai atau dunia pesantren.

Gagasan untuk mendirikan organisasi Muhammadiyah tersebut selain untuk mengaktualisasikan pikiran-pikiran pembaruan Kyai Dahlan, menurut Adaby Darban (2000: 13) secara praktis-organisatoris untuk mewadahi dan memayungi sekolah Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah, yang didirikannya pada 1 Desember 1911. Sekolah tersebut merupakan rintisan lanjutan dari ”sekolah”  (kegiatan Kyai Dahlan dalam menjelaskan ajaran Islam) yang dikembangkan Kyai Dahlan secara informal dalam memberikan pelajaran yang mengandung ilmu agama Islam dan pengetahuan umum di beranda rumahnya. Dalam tulisan Djarnawi Hadikusuma yang didirikan pada tahun 1911 di kampung Kauman Yogyakarta tersebut, merupakan ”Sekolah Muhammadiyah”, yakni sebuah sekolah agama, yang tidak diselenggarakan di surau seperti pada umumnya kegiatan umat Islam waktu itu, tetapi bertempat di dalam sebuah gedung milik ayah Kyai Dahlan, dengan menggunakan meja dan papan tulis, yang mengajarkan agama dengan dengan cara baru, juga diajarkan ilmu-ilmu umum.

Maka pada tanggal 18 November 1912 Miladiyah bertepatan dengan 8 Dzulhijah 1330 Hijriyah di Yogyakarta akhirnya didirikanlah sebuah organisasi yang bernama ”MUHAMMADIYAH”. Organisasi baru ini diajukan pengesahannya pada tanggal 20 Desember 1912 dengan mengirim ”Statuten Muhammadiyah” (Anggaran Dasar Muhammadiyah yang pertama, tahun 1912), yang kemudian baru disahkan oleh Gubernur Jenderal Belanda pada 22 Agustus 1914. Dalam ”Statuten Muhammadiyah” yang pertama itu, tanggal resmi yang diajukan ialah tanggal Miladiyah yaitu 18 November 1912, tidak mencantumkan tanggal Hijriyah. Dalam artikel 1 dinyatakan, ”Perhimpunan itu ditentukan buat 29 tahun lamanya, mulai 18 November 1912. Namanya ”Muhammadiyah” dan tempatnya di Yogyakarta”.  Sedangkan maksudnya (Artikel 2), ialah: a. menyebarkan pengajaran Igama Kangjeng Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi Wassalam kepada penduduk Bumiputra di dalam residensi Yogyakarta, dan b. memajukan hal Agama kepada anggauta-anggautanya.”.

Terdapat hal menarik, bahwa kata ”memajukan” (dan sejak tahun 1914 ditambah dengan kata ”menggembirakan”) dalam pasal maksud dan tujuan Muhammadiyah merupakan kata-kunci yang selalu dicantumkan dalam ”Statuten Muhammadiyah” pada periode Kyai Dahlan hingga tahun 1946 (yakni: Statuten Muhammadiyah Tahun 1912, Tahun 1914, Tahun 1921, Tahun 1931, Tahun 1931, dan Tahun 1941). Sebutlah Statuten tahun 1914: Maksud Persyarikatan ini yaitu: a. Memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran  Igama di Hindia Nederland, dan b. Memajukan dan menggembirakan kehidupan (cara hidup) sepanjang kemauan agama Islam kepada lid-lidnya.

 Dalam pandangan Djarnawi Hadikusuma, kata-kata yang sederhana tersebut mengandung arti yang sangat dalam dan luas. Yaitu, ketika umat Islam sedang dalam kelemahan dan kemunduran akibat tidak mengerti kepada ajaran Islam yang sesungguhnya, maka Muhammadiyah mengungkap dan mengetengahkan ajaran Islam yang murni itu serta menganjurkan kepada umat Islam pada umumnya untuk mempelajarinya, dan kepada para ulama untuk mengajarkannya, dalam suasana yang maju dan menggembirakan.
Pada AD Tahun 1946 itulah pencantuman tanggal Hijriyah (8 Dzulhijjah 1330) mulai diperkenalkan. Perubahan penting juga terdapat pada AD Muhammadiyah tahun 1959, yakni dengan untuk pertama kalinya Muhammadiyah mencantumkan ”Asas Islam” dalam pasal 2 Bab II., dengan kalimat, ”Persyarikatan berasaskan Islam”. Jika didaftar, maka hingga tahun 2005 setelah Muktamar ke-45 di Malang, telah tersusun  15 kali  Statuten/Anggaran Dasar Muhammadiyah, yakni berturut-turut tahun 1912, 1914, 1921, 1934, 1941, 1943, 1946, 1950 (dua kali pengesahan),  1959, 1966, 1968, 1985,  2000, dan 2005.  Asas Islam pernah dihilangkan dan formulasi tujuan Muhammadiyah juga mengalami perubahan pada tahun 1985 karena paksaan dari Pemerintah Orde Baru dengan keluarnya UU Keormasan tahun 1985. Asas Islam diganti dengan asas Pancasila, dan tujuan Muhammadiyah berubah menjadi ”Maksud dan tujuan Persyarikatan ialah menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud  masyarakat utama, adil dan makmur yang diridlai Allah Subhanahu wata’ala”. Asas Islam dan tujuan dikembalikan lagi ke ”masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” dalam AD Muhammadiyah hasil Muktamar ke-44 tahun 2000 di Jakarta.

Kelahiran Muhammadiyah sebagaimana digambarkan itu melekat dengan sikap, pemikiran, dan langkah Kyai Dahlan sebagai pendirinya, yang mampu memadukan paham Islam yang ingin kembali pada Al-Quran dan Sunnah Nabi dengan orientasi tajdid yang membuka pintu ijtihad untuk kemajuan, sehingga memberi karakter yang khas dari kelahiran dan perkembangan Muhammadiyah di kemudian hari.  

Kyai Dahlan, sebagaimana para pembaru Islam lainnya, tetapi dengan tipikal yang khas, memiliki cita-cita membebaskan umat Islam dari keterbelakangan dan membangun kehidupan yang berkemajuan melalui tajdid (pembaruan) yang meliputi aspek-aspek tauhid (‘aqidah), ibadah, mu’amalah, dan pemahaman terhadap ajaran Islam dan  kehidupan umat Islam, dengan mengembalikan kepada sumbernya yang aseli yakni Al-Quran dan Sunnah Nabi yang Shakhih, dengan membuka ijtihad.

Mengenai langkah pembaruan Kyai Dahlan, yang merintis lahirnya Muhammadiyah di Kampung Kauman, Adaby Darban (2000: 31) menyimpulkan hasil temuan penelitiannya sebagai berikut:”Dalam bidang tauhid, K.H A. Dahlan ingin membersihkan aqidah Islam dari segala macam syirik, dalam bidang ibadah, membersihkan  cara-cara ibadah dari bid’ah, dalam bidang mumalah, membersihkan kepercayaan dari khurafat, serta dalam bidang pemahaman terhadap ajaran Islam, ia merombak taklid untuk kemudian memberikan kebebasan dalam ber-ijtihad.”.

Adapun langkah pembaruan yang bersifat ”reformasi” ialah dalam merintis pendidikan ”modern” yang memadukan pelajaran agama dan umum. Menurut Kuntowijoyo, gagasan pendidikan yang dipelopori Kyai Dahlan, merupakan pembaruan karena mampu mengintegrasikan aspek ”iman” dan ”kemajuan”, sehingga dihasilkan sosok generasi muslim terpelajar yang mampu hidup di zaman modern tanpa terpecah kepribadiannya (Kuntowijoyo, 1985: 36).

 Lembaga pendidikan  Islam ”modern” bahkan menjadi ciri utama kelahiran dan perkembangan Muhammadiyah, yang membedakannya dari lembaga pondok pesantren kala itu. Pendidikan Islam “modern” itulah yang di belakang hari diadopsi dan menjadi lembaga pendidikan umat Islam secara umum. Langkah ini pada masa lalu merupakan gerak pembaruan yang sukses, yang mampu melahirkan generasi terpelajar Muslim, yang jika diukur dengan keberhasilan umat Islam saat ini tentu saja akan lain, karena konteksnya berbeda.

Pembaruan Islam yang cukup orisinal dari Kyai Dahlan dapat dirujuk pada pemahaman dan pengamalan Surat Al-Ma’un. Gagasan dan pelajaran tentang Surat Al-Maun, merupakan contoh lain yang paling monumental dari pembaruan yang berorientasi pada amal sosial-kesejahteraan, yang kemudian melahirkan lembaga Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKU). Langkah momumental ini dalam wacana Islam kontemporer disebut dengan ”teologi transformatif”, karena Islam tidak sekadar menjadi seperangkat ajaran ritual-ibadah dan ”hablu min Allah” (hubungan dengan Allah) semata, tetapi justru peduli dan terlibat dalam memecahkan masalah-masalah konkret yang dihadapi manusia. Inilah ”teologi amal” yang tipikal (khas) dari Kyai Dahlan dan awal kehadiran Muhammadiyah, sebagai bentuk dari gagasan dan amal pembaruan lainnya di negeri ini.

Kyai Dahlan juga peduli dalam memblok umat Islam agar tidak menjadi korban misi Zending Kristen, tetapi dengan cara yang cerdas dan elegan. Kyai mengajak diskusi dan debat secara langsung dan terbuka dengan sejumlah pendeta di sekitar Yogyakarta. Dengan pemahaman adanya kemiripan selain perbedaan antara Al-Quran sebagai Kitab Suci umat Islam dengan kitab-kitab suci sebelumnya, Kyai Dahlan menganjurkan atau mendorong ”umat Islam untuk mengkaji semua agama secara rasional untuk menemukan kebenaran yang inheren dalam ajaran-ajarannya”, sehingga Kyai pendiri Muhammadiyah ini misalnya beranggapan bahwa diskusi-diskusi tentang Kristen boleh dilakukan di masjid (Jainuri, 2002: 78) .

Kepeloporan pembaruan Kyai Dahlan yang menjadi tonggak  berdirinya Muhammadiyah juga ditunjukkan dengan merintis gerakan perempuan ‘Aisyiyah tahun 1917, yang ide dasarnya dari pandangan Kyai agar perempuan muslim tidak hanya berada di dalam rumah, tetapi harus giat di masyarakat dan secara khusus menanamkan ajaran Islam serta memajukan kehidupan kaum perempuan.

Langkah pembaruan ini yang membedakan Kyai Dahlan dari pembaru Islam lain, yang tidak dilakukan oleh Afghani, Abduh, Ahmad Khan, dan lain-lain (mukti Ali, 2000: 349-353). Perintisan ini menunjukkan sikap dan visi Islam yang luas dari Kyai Dahlan mengenai posisi dan peran perempuan, yang lahir dari pemahamannya yang cerdas dan bersemangat tajdid, padahal Kyai dari Kauman ini tidak bersentuhan dengan ide atau gerakan ”feminisme” seperti berkembang sekarang ini. Artinya, betapa majunya pemikiran Kyai Dahlan yang kemudian melahirkan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam murni yang berkemajuan.

Kyai Dahlan dengan Muhammadiyah yang didirikannya, menurut Djarnawi Hadikusuma (t.t: 69) telah menampilkan Islam sebagai ”sistem kehidupan mansia dalam segala seginya”. Artinya, secara Muhammadiyah bukan hanya memandang ajaran Islam sebagai aqidah dan ibadah semata, tetapi merupakan suatu keseluruhan yang menyangut akhlak dan mu’amalat dunyawiyah. Selain itu, aspek aqidah dan ibadah pun harus teraktualisasi dalam akhlak dan mu’amalah, sehingga Islam benar-benar mewujud dalam kenyataan hidup para pemeluknya. Karena itu, Muhammadiyah memulai gerakannya dengan meluruskan dan memperluas paham Islam untuk diamalkan dalam sistem kehidupan yang nyata.

Kyai Dahlan dalam mengajarkan Islam sungguh sangat mendalam, luas, kritis, dan cerdas. Menurut Kyai Dahlan, orang Islam itu harus mencari kebenaran yang sejati, berpikir mana yang benar dan yang salah, tidak taklid dan fanatik buta dalam kebenaran sendiri, menimbang-nimbang dan menggunakan akal pikirannya tentang hakikat kehiduupan, dan mau berpikir teoritik dan sekaligus beripiki praktik (K.R. H. Hadjid, 2005).

Kyai Dahlan tidak ingin umat Islam taklid dalam beragama, juga tertinggal dalam kemajuan hidup. Karena itu memahami Islam haruslah sampai ke akarnya, ke hal-hal yang sejati atau hakiki dengan mengerahkan seluruh kekuatan akal piran dan ijtihad.
Dalam memahami Al-Quran, dengan kasus mengajarkan Surat Al-Ma’un, Kyai Dahlan mendidik untuk mempelajari ayat Al-Qur’an satu persatu ayat, dua atau tiga ayat, kemudian dibaca dan simak dengan tartil serta tadabbur (dipikirkan): ”bagaimanakah artinya? bagaimanakah tafsir keterangannya? bagaimana  maksudnya?  apakah ini larangan dan apakah kamu sudah meninggalkan larangan ini? apakah ini perintah yang wajib dikerjakan? sudahkah kita menjalankannya?” (Ibid: 65).  Menurut penuturan Mukti Ali, bahwa model pemahaman yang demikian dikembangkan pula belakangan oleh KH.Mas Mansur, tokoh Muhammadiyah yang dikenal luas dan mendalam ilmu agamanya, lulusan Al-Azhar Cairo, cerdas pemikirannya sekaligus luas pandangannya dalam berbagai masalah kehidupan.

Kelahiran Muhammadiyah dengan gagasan-gagasan cerdas dan pembaruan dari pendirinya, Kyai Haji Ahmad Dahlan, didorong oleh dan atas pergumulannya dalam menghadapi kenyataan hidup umat Islam dan masyarakat Indonesia kala itu, yang juga menjadi tantangan untuk dihadapi dan dipecahkan.

Adapun faktor-faktor yang menjadi pendorong lahirnya Muhammadiyah ialah antara lain:
(a) Umat Islam tidak memegang teguh tuntunan Al-Quran dan Sunnah Nabi, sehingga menyebabkan merajalelanya syirik, bid’ah, dan khurafat, yang mengakibatkan umat Islam tidak merupakan golongan yang terhormat dalam masyarakat, demikian pula agama Islam  tidak memancarkan sinar kemurniannya lagi;
(b) Ketiadaan persatuan dan kesatuan di antara umat Islam, akibat dari tidak tegaknya ukhuwah Islamiyah serta ketiadaan suatu organisasi yang kuat;
(c) Kegagalan dari sebagian lembaga-lembaga pendidikan Islam dalam memprodusir kader-kader Islam, karena tidak lagi dapat memenuhi tuntutan zaman;
(d) Umat Islam kebanyakan hidup dalam alam fanatisme yang sempit, bertaklid buta serta berpikir secara dogmatis, berada dalam konservatisme, formalisme, dan tradisionalisme; dan
(e) Karena keinsyafan akan bahaya yang mengancam kehidupan dan pengaruh agama Islam,  serta berhubung dengan kegiatan misi dan zending Kristen di Indonesia  yang semakin menanamkan pengaruhnya di kalangan rakyat (Junus Salam, 1968: 33).

Karena itu, jika disimpulkan, bahwa berdirinya Muhammadiyah adalah karena alasan-alasan dan tujuan-tujuan sebagai berikut:
(1) Membersihkan Islam di Indonesia dari pengaruh dan kebiasaan yang bukan Islam;
(2) Reformulasi doktrin Islam dengan pandangan alam pikiran modern;
(3) Reformulasi ajaran dan pendidikan Islam; dan
(4) Mempertahankan Islam dari pengaruh dan serangan luar  (H.A. Mukti Ali, dalam Sujarwanto & Haedar Nashir, 1990:  332).

Kendati menurut sementara pihak Kyai Dahlan tidak melahirkan gagasan-gagasan pembaruan yang tertulis lengkap dan tajdid Muhammadiyah bersifat ”ad-hoc”, namun penilaian yang terlampau akademik tersebut tidak harus mengabaikan gagasan-gagasan cerdas dan kepeloporan Kyai Dahlan dengan Muhammadiyah yang didirikannya, yang untuk ukuran kala itu dalam konteks amannya sungguh merupakan suatu pembaruan yang momunemntal.

Ukuran saat ini tentu tidak dapat dijadikan standar dengan gerak kepeloporan masa lalu dan hal yang mahal dalam gerakan pembaruan justru pada inisiatif kepeloporannya.
Kyai Dahlan dengn Muhammadiyah yang didirikannya terpanggil untuk mengubah keadaan dengan melakukan gerakan pembaruan.

 Untuk memberikan gambaran lebih lengkap mengenai latarbelakang dan dampak dari kelahiran gerakan Muhammadiyah di Indonesia, berikut pandangan James Peacock (1986: 26), seorang antropolog dari Amerika Serikat yang merintis penelitian mengenai Muhammadiyah tahun 1970-an, bahwa:  ”Dalam setengah abad sejak berkembangnya pembaharuan di Asia Tenggara, pergerakan itu tumbuh dengan cara yang berbeda di bermacam macam daerah.  Hanya di Indonesia saja gerakan pembaharuan Muslimin itu menjadi kekuatan yang besar dan teratur. Pada permulaan abad ke-20 terdapat sejumlah pergerakan kecil kecil, pembaharuan di Indonesia bergabung menjadi beberapa gerakan kedaerahan dan sebuah pergerakan nasional yang tangguh, Muhammadiyah. Dengan beratus-ratus cabang di seluruh kepulauan dan berjuta-juta anggota yang tersebar di seluruh negeri, Muhammadiyah memang merupakan pergerakan Islam yang terkuat yang pernah ada di Asia Tenggara.

Sebagai pergerakan yang memajukan ajaran Islam yang murni, Muhammadiyah juga telah memberikan sumbangan yang besar di bidang kemasyarakatan dan pendidikan. Klinik-klinik perawatan kesehatan, rumah-rumah piatu, panti asuhan, di samping beberapa ribu sekolah menjadikan Muhammadiyah  sebagai lembaga non-Kristen dalam bidang kemasyarakatan, pendidikan dan keagamaan swasta yang utama di Indonesia. ‘Aisyiah, organisasi wanitanya, mungkin merupakan pergerakan wanita Islam yang terbesar di dunia. Pendek kata Muhammadiyah merupakan suatu organisasi yang utama dan terkuat di negara terbesar kelima di dunia.”.

Kelahiran Muhammadiyah secara teologis memang melekat dan memiliki inspirasi pada Islam yang bersifat tajdid, namun secara sosiologis sekaligus memiliki konteks dengan keadaan hidup umat Islam dan masyarakat Indonesia yang berada dalam keterbelakangan. Kyai Dahlan melalui Muhammadiyah sungguh telah memelopori kehadiran Islam yang otentik (murni) dan berorientasi pada kemajuan dalam pembaruannya, yang mengarahkan hidup umat Islam untuk beragama secara benar dan melahirkan rahmat bagi kehidupan. Islam tidak hanya ditampilkan secara otentik dengan jalan kembali kepada sumber ajaran yang aseli yakni Al-Qur‘an dan Sunnah Nabi yang sahih, tetapi juga menjadi kekuatan untuk mengubah kehidupan manusia dari serba ketertinggalan menuju pada dunia kemajuan.

Fenomena baru yang juga tampak menonjol dari kehadiran Muhammadiyah ialah, bahwa gerakan Islam yang murni dan berkemajuan itu dihadirkan bukan lewat jalur perorangan, tetapi melalui sebuah sistem organisasi.  Menghadirkan gerakan Islam melalui organisasi merupakan terobosan waktu itu, ketika umat Islam masih dibingkai oleh kultur tradisional yang lebih mengandalkan kelompok-kelompok lokal seperti lembaga pesantren dengan peran kyai yang sangat dominan selaku pemimpin informal.

Organisasi jelas merupakan fenomena modern abad ke-20, yang secara cerdas dan adaptif telah diambil oleh Kyai Dahlan sebagai “washilah” (alat, instrumen) untuk mewujudkan cita-cita Islam, mem-format gerakan Islam melalui organisasi dalam konteks kelahiran Muhammadiyah, juga bukan semata-mata teknis tetapi juga didasarkan pada rujukan keagmaan yang selama ini melekat dalam alam pikiran para ulama mengenai qaidah “mâ lâ yatimm al-wâjib illâ bihi fa huwâ wâjib”, bahwa jika suatu urusan tidak akan sempurna manakala tanpa alat, maka alat itu menjadi wajib adanya.  


Lebih mendasar lagi, kelahiran Muhammadiyah sebagai gerakan Islam melalui sistem organisasi, juga memperoleh rujukan teologis sebagaimana tercermin dalam pemaknaan/penafsiran Surat Ali Imran ayat ke-104, yang memerintahkan adanya  “sekelompok orang untuk mengajak kepada Islam, menyuruh pada yang ma‘ruf, dan mencegah dari yang munkar”. Ayat Al-Qur‘an tersebut di kemudian hari bahkan dikenal sebagai ”ayat” Muhammadiyah.
Muhammadiyah dengan inspirasi Al-Qur‘an Surat Ali Imran 104 tersebut ingin menghadirkan Islam bukan sekadar sebagai ajaran “transendensi” yang  mengajak pada kesadaran iman dalam bingkai tauhid  semata. Bukan sekadar Islam yang murni, tetapi tidak hirau terhadap kehidup. Apalagi Islam yang murni itu sekadar dipahami secara parsial. Namun, lebih jauh lagi Islam ditampilkan sebagai kekuatan dinamis untuk transformasi sosial dalam dunia nyata kemanusiaan melalui gerakan  “humanisasi” (mengajak pada serba kebaikan) dan “emanisipasi” atau “liberasi” (pembebasan dari segala kemunkaran), sehingga Islam diaktualisasikan sebagai agama Langit yang Membumi, yang menandai terbitnya fajar baru Reformisme atau Modernisme Islam di Indonesia.
http://www.suara-muhammadiyah.or.id

Bentuk dan susunan pancasila

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
     Era globalisasi menuntut adanya berbagai perubahan. Demikian juga bangsa Indonesia pada saat ini terjadi perubahan besar-besaran yang disebabkan oleh pengaruh dari luar maupun dari dalam negeri.
Kesemuanya di atas memerlukan kemampuan warga Negara yang mempunyai bekal ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang berlandaskan pada nilai-nilai keagamaan dan nilai-nilai budaya bangsa. Pendidikan Pancasila bertujuan untuk menghasilkan peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berperikemanusiaan yang adil dan beradab, mendukung kerakyatan yang mengutamakan upaya mewujudkan suatu keadlan social dalam masyarakat.
B.  RB. Rumusan ­Masalah
Dengan berpijak kepada latar belakang diatas dan mengetahui sedikit tentang pendidikan pancasila, maka permasalahan yang ingin diungkap dalam tulisan ini, sebagai berikut :
  1. Apa yang dimaksud dengan bentuk pancasila?
  2. Apa yang dimaksud dengan susunan pancasila?
  3. Apa yang dimaksud dengan filsafat pancasila?

C.      Tujuan Penulisan
 Ingin mencoba menjelaskan jawaban dari ketiga rumusan masalah di atas. Sehingga setelah membahas materi ini diharapkan mahasiswa dapat memahami dan menerapkannya dalam kegiatannya seorang guru, dan akhirnya dapat menghasilkan kualitas pendidikan yang lebih baik dan keberhasilan dalam pengajaran.
BAB II
PEMBAHASAN

1.        Bentuk dan Susunan Pancasila
Pancasila terdiri atas 5 sila. Setiap sila merupakan asas dengan fungsinya masing-masing. Namun secara keseluruhan pancasila merupakan sesuatu yang universal. Sila-sila pancasila merupakan satu kesatuan dan keutuhan, yang konsekuensinya tidak dapat berdiri sendiri, terlepas dari sila-sila yang lain. Kesatuan ini dapat dijelaskan dengan istilah sebagai berikut:
a.       Majemuk tunggal
b.      Satu kesatuan organis
c.       Saling mengkualifikasi
d.      Hierarkis pyramidal
Majemuk tunggal artinya terdiri dari 5 sila, namun merupakan kesatuan yang bulat dan utuh. Setiap sila tidak dapat dipisahkan dengan yang lain agar maknanya tidak berubah. Satu kesatuan organis maksudnya masing-masing sila mempunyai kedudukan yang mutlak, sila yang satu menentukan keberadaan sila yang lainnya. Setiap sila saling mengkualifikasi, yaitu dalam perwujudan konkritnya antara nilai satu sila, nilai sila lainnya saling menyempurnakan. Sila yang satu mensyaratkan pengertian empat sila yang lain dalam pengamalannya.
Pengertian hierarkis pyramidal digunakan untuk menggambarkan hubungan hierarkis/berjenjang sila-sila pancasila, baik dalam kesatuan sila-sila pancasila juga dapat dijelaskan dengan mengacu pada system filsafat yang terdiri dari 3 landasan, yaitu antologis, epistemologis, dan aksiologis. Landasan antologis berarti mengakui adanya suatu hal yang merupakan sebab dari adanya suatu hal yang merupakan sebab dari adanya sesuatu yang lain dan merupakan tempat kembali dari sesuatu yang lain tersebut. Sila 1 sebagai landasan ontologis tidak langsung berarti bahwa Tuhan menjadi penyebab tidak langsung adanya pancasila. Sedangkan sila ke 2 merupakan landasan ontologis langsung karena manusia menjadi penyebab langsung adanya pancasila. Artinya pancasila ada itu karena adanya manusia Indonesia yang merenungkan, merumuskan, dan menjadikan sila-sila pancasila sebagai dasar negaranya. Landasan epistemologis adalah suatu cara,metode, strategi, dan norma agar sesuatu yang lain dapat kembali pada sebabnya. Sila ke 3 persatuan dan sila ke 4 yang memiliki substansi asas demokrasi merupakan landasan epistemology bangsa Indonesia.
Adapun landasan aksiologis dalam pancasila menunjukan bahwa tujuan bangsa indonesia selalu diliputi oleh nilai-nilai, baik nilai-nilai religious seperti tersimpul dalam sila pertama maupun nilai-nilai etis dan estetis, seperti yang ditunujukkan dalam sila ke 2, ke 3, ke 4 dan ke 5. Artinya sila-sila pancasila mengandung muatan nilai-nilai luhur yang menjadi acuan dalam perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Berdasarkan uraian tersebut, pancasila sudah memenuhi syarat untuk disebut sebagai system kefilsafatan, pancasila merupakan hasil pemikiran manusia Indonesia secara mendalam, sistematik, dan menyeluruh.
Manusia seutuhnya  digunakan untuk memahami arti makna Pancasila sebagai  ideologi pembangunan serta tujuan jangka panjang yang hendak dicapai bersama. Ideologi pembangunan  bercorak “ antroposentrik” dalam arti  manusia yang berada pada tempat yang sentral  sebagai subjek dan sekaligus objek pembangunan



BENTUK DAN SUSUNAN PANCASILAPyramid Diagram 
( Hierarkis Piramidal )


( Hierarkis Piramidal )



        




        






Sila 5 dijiwai sila 1,2,3,4
Sila 4 dijiwai sila 1,2,3  dan  menjiwai sila  5
Sila 3 dijiwai sila 1,2  dan  menjiwai sila 4 & 5
Sila 2 dijiwai sila 1 dan  menjiwai sila 3,4 & 5
Sila 1 menjiwai sila 2,3,4,&5
Sila dibelakang sila lainya itu adalah pengjelmaan / pengkususan sila-sila dimukanya. Lebih sempit “luasnya” tapi lebih luasa “sifatnya”
Sila yang di depan  mendasari, meliputi  dan menjiwai sila-sila dibelakangnya atau sila dibelakang didasari, diliputi, dan dijiwai sila didepannya
                            

                                                     BENTUK SUSUNAN PANCASILA
( Kesatuan Majemuk Tunggal Bersifat Organis )
  1. Masing-masing sila tidak terpisahkan satu sama lain dalam hal kesatuannya
  2. Masing-masing sila mempunyai kedudukan dan fungsi sendiri-sendiri
  3. Masing-masing sila berbeda namun tidak bertentangan
  4. Masing-masing sila atau bagian saling melengkapi
  5. Masing-masing sila atau bagian tidak boleh dilepas-pisahkan satu sama lain

Kesatuan organis dari kemajemukan akan menghidupkan  keduduakn dan fungsi-fungsi sila dalam satu kesatuan yang utuh

BENTUK SUSUNAN PANCASILA
( Saling Mengkualifikasi/Mengisi )
Masing-Masing Sila Mengandung 4 sila lainnya Dikualifikasi oleh 4 sila lainnya
Sila 1 juga mengandung sila 2,3,4,5
Sila 2 juga mengandung sila 1,3,4,5
Sila 3 juga mengandung sila 1,2,4,5
Sila 4 juga mengandung sila 1,2,3,5
Sila 5 juga mengandung sila 1,2,3,4

  1. Pengertian Pancasila sebagai suatu system
                 Pancasila yang terdiri atas lima sila pada hakikatnya merupakan system filsafat. Yang dimaksud dengan system adalah kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan, saling bekerjasama untuk satu tujuan tertentu dan secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang utuh, system lazimnya memiliki cirri-ciri sebagai berikut:
1.      suatu kesauan bagian-bagian
2.      bagian-bagian tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri
3.      saling berhubungan, saling ketergantungan
4.      kesemuanya dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan bersama(tujuan system)
5.      terjadi dalam suatu lingkungan yang kompleks (Shore dan Voich, 1974:22)
  1. Kesatuan sila-sila Pancasila
Susunan pancasila adalah hierarkis dan berbentuk pyramidal. Pengertian matematika pyramidal digunakan untuk menggambarkan hubungan hierarki sila-sila dari pancasila dalam urutan-urutan luas (kwantitas) dan juga dalam hal sifat-sifatnya(kwalitas). Kalau dilihat dari intinya urutan lima sila menunjukan suatu rangkaian tingkat dalam luasnya dan isi sifatnya, merupakan pengkhususan dari sila-sila yang dimukanya. Jika urutan lima sila dianggap mempunyai maksud demikian, maka diantara lima sila ada hubungan yang mengikat yang satu kepada yang lain sehingga pancasila merupakan suatu kesatuan yang keseluruhan bulat.
  1. Kesatuan sila-sila pancasila yang saling mengisi dan mengkualifikasi
Sila-sila pancasila sebagai satu kesatuan dapat dirumuskan pula dalam hubungannya saling mengisi atau mengkualifikasi dalam rangka hubungan hierarkis pyramidal tadi. Tiap-tiap sila seperti yang disebutkan di atas mengandung empat silalainnya. Untuk kelengkapan hubungan kesatuan keseluruhan dari sila-sila pancasila dipersatukan dengan rumus hierarkis tersebut diatas.
  1.  Pancasila sebagai suatu system filsafat
Kesatuan sila-sila pancasila bukanlah hanya merupakan kesatuan yang bersifat formal logis saja namun juga meliputi kesatuan dasar ontologism, dasar epistemologis serta dasar aksiologis dari sila-sila pancasila tersebut.
Dasar Ontologis Sila² Pancasila adalah :
manusia yang memiliki hakikat mutlak monopluralis, hakikat dasar ini disebut dasar antropologis
Manusia adalah subyek pendukung pokok sila² Pancasila, Pada hakikatnya yang ber-Tuhan YME, yang berkemanusiaan…,yang berpersatuan…, yang berkerakyatan…, ialah manusia
Dari segi Filsafat Negara Pancasila adalah “Dasar Filsafat Negara”
Pendukung pokok negara adalah rakyat & unsur rakyat ialah manusia Jadi tepat jika dlm filsafat Pancasila dinyatakan bahwa hakikat dasar antropologis sila² Pancasila adalah MANUSIA
Dasar Epistemologi
Dasar epistemologi Pancasila hakikatnya tidak dapat dipisahkan dengan dasar ontologisnya. Manusia adalah basis ontologis Pancasila, oleh karena itu mempunyai implikasi terhadap bangunan epistemologi, yakni bangunan epistemologi yang ditempatkan dalam bangunan fils. Manusia.
Dlm Epistemologi terdpt 3 persoalan mendasar :
  1. Ttg sumber penget. manusia
  2. Ttg teori kebenaran penget. manusia
  3. Watak penget. manusia


Dasar Aksiologis:
            Yaitu nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila pada hakikatnya juga merupakan suau kesatuan. Terdapat berbagai macam teori tentang nilai dan hal ini sangat tergantung pada titik tolak dan sudut pandangnya masing-masing dalam menentukan tentang pengertian nilai dan hierarkinya.
ARTI FILSAFAT :
*       Secara Etimologis : dari bahasa Yunani,   terdiri atas kata :
    philien =  mencintai dan sophos = kebijaksanaan.
    philia = cinta dan sophia =  kearifan = pandai
Filsafat berarti cinta kebijaksanaan/kearifan.
Asal mulanya untk menyebut “usaha mencari keutamaan mental”
*       Secara Terminologis, yakni arti filsafat stlh dikaitkan dg bid.²
        ilmu tertentu sesuai perkembangan  Ilmu Pengetahuan.
Pancasila memenuhi syarat sebagai Sistem Filsafat, karena :
  1. Sila² Pancasila merup. Satu kesat. Yg bulat & utuh
  2. Sila² Pancasila bereksistensi dlm keteraturan :                       
     - bersusun hierarkhis & berbentuk piramidal
3.   Ada keterkaitan antar Sila² Pancasila
  1. Ada kerjasama antar Sila² Pancasila utk mencapai tujuan     
  2. Ada tujuan bersama (tsb. Alinea IV Pemb. UUD NRI 1945)           
Pancasila terdiri atas baggian-bagian.  yakni. Sila-sila, di mana setiap sila pada hakikatnya merupakan suatu asas dan fungsi sendiri-sendiri, namun secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang sistematis, karena :
1. Susunan Kesatuan Sila² Pancasila Bersifat Organis
2. Susunan Sila² Pancasila Bersifat Hierarkhis dan Berbentuk Piramidal
3. Rumusan hub. Sila² saling mengisi dan saling mengkualifikasi.
  1. Pengertian Pancasila Secara Termitologis
Proklamasi 17 Agustus 1945 telah melahirkan Negara RI untuk melengkapai alat2 Perlengkapan Negara PPKI mengadakan sidang pada tanggal 18 Agustus 1945 dan berhasil mengesahkan UUD 45 dimana didalam bagian Pembukaan yang terdiri dari 4 Alinea didalamnya tercantum rumusan Pancasila. Rumusan Pancasila tersebut secara Konstitusional sah dan benar sebagai dasar negara RI yang disahkan oleh PPKI yang mewakili seluruh Rakyat Indonesia
Pancasila Berbentuk:
1.      Hirarkis (berjenjang);
2.      Piramid.
v     Filsafat Pancasila versi Soekarno
                   Filsafat Pancasila kemudian dikembangkan oleh Sukarno sejak 1955 sampai berakhirnya kekuasaannya (1965). Pada saat itu Sukarno selalu menyatakan bahwa Pancasila merupakan filsafat asli Indonesia yang diambil dari budaya dan tradisi Indonesia dan akulturasi budaya India (Hindu-Budha), Barat (Kristen), dan Arab (Islam). Menurut Sukarno “Ketuhanan” adalah asli berasal dari Indonesia, “Keadilan Soasial” terinspirasi dari konsep Ratu Adil. Sukarno tidak pernah menyinggung atau mempropagandakan “Persatuan”.
v       Filsafat Pancasila versi Soeharto
                   Oleh Suharto filsafat Pancasila mengalami Indonesiasi. Melalui filsuf-filsuf yang disponsori Depdikbud, semua elemen Barat disingkirkan dan diganti interpretasinya dalam budaya Indonesia, sehingga menghasilkan “Pancasila truly Indonesia”. Semua sila dalam Pancasila adalah asli Indonesia dan Pancasila dijabarkan menjadi lebih rinci (butir-butir Pancasila). Filsuf Indonesia yang bekerja dan mempromosikan bahwa filsafat Pancasila adalah truly Indonesia antara lain Sunoto, R. Parmono, Gerson W. Bawengan, Wasito Poespoprodjo, Burhanuddin Salam, Bambang Daroeso, Paulus Wahana, Azhary, Suhadi, Kaelan, Moertono, Soerjanto Poespowardojo, dan Moerdiono.
                   Berdasarkan penjelasan diatas maka pengertian filsafat Pancasila secara umum adalah hasil berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai sesuatu (kenyataan, norma-norma, nilai-nilai) yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, paling baik dan paling sesuai bagi bangsa Indonesia.
                   Kalau dibedakan anatara filsafat yang religius dan non religius, maka filsafat Pancasila tergolong filsafat yang religius. Ini berarti bahwa filsafat Pancasila dalam hal kebijaksanaan dan kebenaran mengenal adanya kebenaran mutlak yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa (kebenaran religius) dan sekaligus mengakui keterbatasan kemampuan manusia, termasuk kemampuan berpikirnya. Dan kalau dibedakan filsafat dalam arti teoritis dan filsafat dalam arti praktis, filsafast Pancasila digolongkandalam arti praktis. Ini berarti bahwa filsafat Pancasila di dalam mengadakan pemikiran yang sedalam-dalamnya, tidak hanya bertujuan mencari kebenaran dan kebijaksanaan, tidak sekedar untukmemenuhi hasrat ingin tahu dari manusia yang tidak habis-habisnya, tetapi juga dan terutama hasil pemikiran yang berwujud filsafat Pancasila tersebut dipergunakan sebagai pedoman hidup sehari-hari (pandangan hidup, filsafat hidup, way of the life, Weltanschaung dan sebgainya); agar hidupnya dapat mencapai kebahagiaan lahir dan batin, baik di dunia maupun di akhirat.
                   Selanjutnya filsafat Pancasila mengukur adanya kebenran yang bermacam-macam dan bertingkat-tingkat sebgai berikut:
1.      Kebenaran indra (pengetahuan biasa);
2.      Kebenaran ilmiah (ilmu-ilmu pengetahuan);
3.      Kebenaran filosofis (filsafat);
4.      Kebenaran religius (religi).
                   Untuk lebih meyakinkan bahwa Pancasila itu adalah ajaran filsafat, sebaiknya kita kutip ceramah Mr.Moh Yamin pada Seminar Pancasila di Yogyakarta tahun 1959 yang berjudul “Tinjauan Pancasila Terhadap Revolusi Fungsional”, yang isinya anatara lain sebagai berikut:
                   Tinjauan Pancasila adalah tersusun secara harmonis dalam suatu sistem filsafat. Marilah kita peringatkan secara ringkas bahwa ajaran Pancasila itu dapat kita tinjau menurut ahli filsafat ulung, yaitu Friedrich Hegel (1770-1831) bapak dari filsafat Evolusi Kebendaan seperti diajarkan oleh Karl Marx (1818-1883) dan menurut tinjauan Evolusi Kehewanan menurut Darwin Haeckel, serta juga bersangkut paut dengan filsafat kerohanian seperti diajarkan oleh Immanuel Kant (1724-1804).
                   Menurut Hegel hakikat filsafatnya ialah suatu sintese pikiran yang lahir dari antitese pikiran. Dari pertentangan pikiran lahirlah paduan pendapat yang harmonis. Dan ini adalah tepat. Begitu pula denga ajaran Pancasila suatu sintese negara yang lahir dari antitese.
                   Saya tidak mau menyulap. Ingatlah kalimat pertama dan Mukadimah UUD Republik Indonesia 1945 yang disadurkan tadi dengan bunyi: Bahwa sesungguhanya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Oleh sebab itu penjajahan harus dihapusakan karena bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
                   Kalimat pertama ini adalah sintese yaitu antara penjajahan dan perikemanusiaan dan perikeadilan. Pada saat sintese sudah hilang, maka lahirlah kemerdekaan. Dan kemerdekaan itu kita susun menurut ajaran falsafah Pancasila yang disebutkan dengan terang dalam Mukadimah Konstitusi R.I. 1950 itu yang berbunyi: Maka dengan ini kami menyusun kemerdekaan kami itu, dalam suatu Piagam Negara yang berbentuk Republik Kesatuan berdasarkan ajaran Pancasila. Di sini disebut sila yang lima untukmewujudkan kebahagiaan, kesejahteraan dan perdamaian dunia dan kemerdekaan. Kalimat ini jelas kalimat antitese. Sintese kemerdekaan dengan ajaran Pancasila dan tujuan kejayaan bangsa yang bernama kebahagiaan dan kesejajteraan rakyat. Tidakah ini dengan jelas dan nyata suatu sintese pikiran atas dasar antitese pendapat?
                   Jadi sejajar denga tujuan pikiran Hegel beralasanlah pendapat bahwa ajaran Pancasila itu adalah suatu sistem filosofi, sesuai dengan dialektis Neo-Hegelian.   Semua sila itu adalah susunan dalam suatu perumahan pikiran filsafat yang harmonis. Pancasila sebagai hasil penggalian Bung Karno adalah sesuai pula dengan pemandangan tinjauan hidup Neo-Hegelian. 
  1. PANCASILA SEBAGAI SISTEM NILAI
Nilai pada hakekatnya adalah sifat atau kualitas yang melekat pada suatu objek. Jadi, bukan objek itu sendiri yang dinamakan nilai. Macam – Macam Nilai dasar dijabarkan lebih lanjut oleh dengan cara interpretasi menjadi nilai instrumental. Rumusan nilai instrumental ini masih berupa rumusan umum yang berwujud norma-norma. Nilai instrumental ini kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam nilai prakris, yang berwujud indicator-indikator yang sifatnya sangat konkrit berkaitan suatu bidang dalam kehidupan.  Dalam konteks hidup bernegara, maka Pancasila sebagai dasar Negara dan asas kerohanian Negara merupakan nilai dasar. Nilai dasar ini dijabarkan lebih lanjut dalam nilai instrumental, yaitu berupa UUD’45 sebagai hukum dasar tertulis. Sistem Nilai dalam Pancasila Nilai-nilai Pancasila bagi bangsa Indonesia menjadi landasan, dasar, serta motivasi atas segala perbuatan baik dalam kehidupan sehari-hari dan dalam kehidupan kenegaraan.
Bentuk dan Susunan Pancasila. Bentuk Pancasila di dalam pengertian ini diartikan sebagai rumusan Pancasila sebagaimana tercantum di dalam alinea IV Pembukaan UUD’45. Pancasila sebagai suatu sistem nilai disusun berdasarkan urutan logis keberadaan unsur-unsurnya. Susunan sila-sila Pancasila merupakan kesatuan yang organis, satu sama lain membentuk suatu system yang disebut dengan istilah “Majemuk Tunggal”. Pancasila sebagai satu kesatuan system nilai, juga membawa implikasi bahwa antara sila yang satu dengan sila yang lain saling mengkualifikasi. Hal ini berarti bahwa antara sila yang satu dengan yang lain, saling memberi kualitas, memberi bobot isi.
Organization Chart 





SYARAT SISTEM
Cycle Diagram 
























BAB III
PENUTUP

  1. Kesimpulan
Proklamasi 17 Agustus 1945 telah melahirkan Negara RI untuk melengkapai alat2 Perlengkapan Negara PPKI mengadakan sidang pada tanggal 18 Agustus 1945 dan berhasil mengesahkan UUD 45 dimana didalam bagian Pembukaan yang terdiri dari 4 Alinea didalamnya tercantum rumusan Pancasila. Rumusan Pancasila tersebut secara Konstitusional sah dan benar sebagai dasar negara RI yang disahkan oleh PPKI yang mewakili seluruh Rakyat Indonesia
Pancasila Berbentuk:
1.      Hirarkis (berjenjang);
2.      Piramid.
3. Majemuk tunggal bersifat organis
4. Saling mengkualifikasi

    Filsafat Pancasila adalah hasil berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai sesuatu (kenyataan, norma-norma, nilai-nilai) yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, paling baik dan paling sesuai bagi bangsa Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

Koentjaraningrat. 1980. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia.
Notonagoro. 1980. Beberapa Hal Mengenai Falsafah Pancasila, Cet. 9. Jakarta: Pantjoran Tujuh.
http:// www.google.co.id
http:// www.teoma.com
http:// www.kumpulblogger.com